Catatan tahun lalu PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 07 May 2009 18:42
Catatan Tahun Lalu Surga bagiku adalah… seperti mengenakan matahari disekitar kepala bagai sebuah kalung… Surga bagiku adalah… apabila orang lain merasa bahwa aku menjalin hubungan dengan bintang bintang… dengan bulan bulan… yang akrab maupun tidak… dengan langit yang berwarna biru atau yang berwarna lain… Surga adalah tempat dimana memeluk itu berarti membesarkan hati dan membuai… Surga adalah tempat dimana pelukan merupakan pembukaan yang lembut untuk diri sendiri… dan bukan untuk kumiliki… Surga adalah tempat dimana membuai dan membuka diri tidak ada hubungannya dengan kekuasaan… ketakutan… Kerentanan… dan kepiluan… Berhati-hatilah kawan karena jalan yang kita tempuh, tak selamanya bebas penghalang.Karena jalan yang kita lalui belum tentu tak ada duri. Berpegang tangan erat, berbagi kekuatan. Disitulah indahnya persahabatan. Ingatlah, teman yang baik bukanlah teman yang selalu membenarkan kita. Teman yang baik adalah teman yang selalu mengajak kita berbuat benar. Ya Allah… Ingin mengenal-Mu Mengenal jalan pulang Bukakan hati kami Luaskan Hidayah-Mu Ya Allah Lembutkan hati kami Allah Robah diri… Cahayai hati kami, Jadikan hati kami cahaya (Catatan disela tangisan, masjid syuhada 26 Juni 2004) Sembunyikan kemarahan Anda, jangan mengungkit-ungkit kesalahan yang kecil, tutuplah mata terhadap kenakalan orang lain, maafkanlah kesalahan yang dilakukan atas diri Anda, dan kuburkanlah semua cela itu, niscaya Anda akan menjadi orang yang paling dicintai.
Last Updated on Friday, 19 June 2009 14:00
 
Ngga jelas PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 07 May 2009 18:41
Ngga jelas…. Karena anda, seperti juga saya, punya kehendak, idealisme dan juga orientasi yang tidak mungkin bagi seseorang untuk mengambilnya, merubahnya, menilai benar salah, mencap sesat lurus, atau apa pun yang menjadikan nilai orang lain lebih rendah dilihat dari segi pemikiran. Adalah lucu, jika kita tidak pernah membukakan pintu bagi tamu yang hendak bertandang ke rumah mungil kita. Rumah mungil ini bernama hati, yang seharunya tetap terbuka, bagi pesan-pesan dan isyarat dari luar. Mungkin terkesan kaku bahasa yang saya gunakan. Tapi, saya tidak tahu lagi harus dengan bahasa apa yang saya gunakan. Sebentar lagi Puasa, Lebaran, Insya Allah, jika kita menempatkannya pada posisi yang sama, nilainya juga sama. Maafkan, sebelumnya. Kepada semua teman-teman saya, Mungkin jika ada kesempatan, saya ingin menyebutkan satu persatu nama-nama yang paling berkesan dihati saya. Tapi, cukuplah kata "semua" membangkitkan ingatan Anda bahwa Anda masing-masing pernah memberikan kesegaran dalam hati saya. Bahwa nama Anda sempat terlukis dalam hati saya. Bahwa beberapa penggal huruf nama Anda pernah menempati hati ini, yang mencoba untuk diluaskan, agar dapat menampung semuanya . . . "Kemarilah, . . . biar kuluaskan hatiku untuk menampung segala keluh kesah hati mu . ." Demikian, semoga bukan sesuatu yang menjadikan Anda mendendam, tidak baik bagi kesehatan. Bukan sesuatu yang melemahkan, bukan pula tulisan yang melenakan Anda, karena apa? saya tidak pintar membuat puisi . . . "Dan ingatlah . . , bahwa kenyataan hari ini, adalah impian kita hari-hari yang lalu . . ."
 
o0 IntermezO 0o PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 07 May 2009 18:31
Kehadiran kita di dunia, bukan tanpa rencana. Orang-orang terdekat kita punya cita-cita dan kita pun punya harapan. Hanya saja, takdir Allah tidak ada yang tahu. Tapi sahabat, di langit, antara takdir dan do’a sering kali bertengkar (hadits). Dan kehendak Allah jua yang memilihkannya kepada kita: dijatuhkan takdir yang tetap atau merubahnya dengan do’a itu. Selama kita hidup, ada sebuah cita-cita besar. Itu semua kita punya. Terkadang, ada yang sama, bersinggungan atau bertolak belakang. Masing-masing kita berbeda, tapi jangan salahkan kalau kenyataan mengatakan bahwa masing-masing kita ada kesamaan. Kaidah ushul fiqh mengatakan “jika tidak bisa melaksanakan semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya” dan teman sy mengatakan “jangan mencari yang paling benar, carilah yang tidak salah”. Tetapi, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, dalam MINHAJUL MUSLIMIN (ENSIKLOPEDI MUSLIM), mengatakan bahwa hadits “Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat” merupakan hadits maudhu’ (palsu). Karenanya, satukanlah persamaan, jika ada yang berbeda “MARI KITA MEREKATKAN” dan “MENCARIKAN KEBENARAN” atasnya.
 
Open Your Mind PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 07 May 2009 18:38
o0 open your mind 0o Seorang lelaki senantiasa mencari dan berusaha agar tulang rusuknya yang hilang bisa kembali ke dadanya, dan seorang perempuan mempunyai cita-cita dan keinginan besar agar ia bisa kembali ke tempat dimana dia bisa disandingkan dan melabuhkan sebagian kekurangannya di dada laki-laki. [dikutip dari e-mail yang dikirimkan pada ‘tri asih’ < This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it >, from ‘Abu Fikrah’ < This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it >] Bener ngga ya..? Akhowat berusia di bawah 22 tahun akan menikah dengan pertanyaan, “Siapa diriku?” Ini siratan introspektif. “Masak sih saya pantas untuk beliau. Beliau aktivitas dakwahnya luar biasa, saya cuma biasa-biasa. Beliau pemahaman keislamannya sangat dalam, saya dangkal-dangkal saja. Ah masak sih saya layak?” Ya. Kalimat awalnya memang begitu. Tapi biasanya akan berakhir menjadi, “Sungguh suatu kehormatan dan karunia bisa menikah dengan antum..” Ah.., begitulah resam manusia. Yang berumur 23 sampai 27 akan berkata pada calon suaminya, “Siapa dirimu?” Ini siratan interogatif. “Siapa kamu berani menikah sama saya. Saya sarjana, prospek karir cerah, hafalan banyak, aktivitas dakwah segunung. Siapa antum berani datang melamar?” Ah, afwan ini memang agak diekstremkan. Ngak gitu-gitu amat kok. Tapi jelas, di usia ini pertimbangannya lebih rumit dari pada sebelumnya. Nah, yang berusia 28 ke atas akan berkata, “Siapa saja deh!” Ini siratan kepasrahan. Insyaallah tetap mulia kok kalau pasrahnya pada Allah. Jadi jangan khawatir.
 
Haji tanpa Melihat Ka'bah PDF Print E-mail
Written by onny   
Wednesday, 04 March 2009 07:37

"Kubur adalah rumah akhirat pertama, Bila selamat dikubur, maka yang setelahnya menjadi lebih mudah, bila tidak selamat di kubur, maka yang setelahnya lebih sulit." (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah).

"Kubur adalah rumah akhirat pertama, Bila selamat dikubur, maka yang setelahnya menjadi lebih mudah, bila tidak selamat di kubur, maka yang setelahnya lebih sulit." (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

**********************************************************************

Wanita ini luar biasa kejinya, ia mencari uang dengan berbagai cara, tukar-menukar bayi, bahkan memasukkan jimat ke dalam mulut jenazah yang dimandikannya. Ketika ajalnya tiba, bumi tak mau menerimanya. Ia mati tergulung api.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2